Satu Berkah Pandemi
Pagi ini, dalam perjalanan pulang dari sebuah toko di Wates, kami ngobrol-ngobrol ringan di atas motor. "Ma, sayure pas, uenak, cocok" tiba-tiba pak suami nyeletuk. "Opo pa, baksone to? Kui buatane bakso Istiq*mah pa", kujawab seadanya karna gak ngeh dengan apa yang beliau bilang. "Wah mama gak nyambung, sayur masakane mama mau lo sing enak ma". Aku senyum-senyum aja.
Ya, aku ingat betul, dulu aku bisa masak, tapi tidak bisa pas di lidah. Setahun pertama kami menikah, suamiku terus saja mengkritik masakanku. Asiin, hambar, kurang gula, kurang ini, kurang itu, yang membuat aku terkadang jadi ngambek. Bagaimana tidak, suami terus saja memuji masakan mbahnya, buliknya, ibuknya, dan semuanya. Istri lain mungkin bisa kabur kalau dibanding-bandingkan terus kayak gitu, kayak lagu "Ojo dibanding-bandingke" hehe.
Semua berkah pandemi. Trus, apa hubungannya dengan masakan? Yes, pandemi yang mengajariku masak. 😅 Ketakutan membeli makanan matang membuatku terpaksa bergerak. Keinginan melindungi diri dan keluarga mengalahkan segala ego diri. Kritikan pedas suamipun juga memicu untuk terus memperbaiki rasa. Yess, i done.
Sekarang, hampir tiap hari mendapat pujian dari suami dan anak-anak. Semua tidak lepas dari usaha memperbaiki kesalahan-kesalahan. Semua hal yang terjadi atas izin Allah. Pasti ada hal baik di balik musibah. Tugas kita hanya mengikhlaskannya dan sabar disertqi tawakkal. Selain itu juga jangan takut salah, terus perbaiki diri. Jangan mudah patah semangat, apalagi patah hati, karna hanya akan menyiksa diri. Yuk, terus belajar, tidak hanya di dapur saja, tapi di semua garis kehidupan.
Komentar
Posting Komentar